Filed under: Aspirasi
Beberapa gagasan yang ingin saya share untuk membangun Kota Bandung…
Membangun kota sehingga bisa terjangkau (aksesibel) bagi warga dengan mengatasi masalah kemacetan, mengembangkan kualitas angkutan umum dan penyediaan fasilitas yang layak dan nyaman bagi pejalan kaki dan penyandang cacat.
Membangun dan mengembangkan kegiatan ekonomi yang berwatak kerakyatan, yaitu usaha kecil dan menengah yang bertumpu pada kekuatan produktif manusia, sumberdaya lokal, kreativitas, dan teknologi tepat guna yang berperspektif kelestarian lingkungan.
Mengembangkan kesejahteraan sosial berdasarkan prinsip demokrasi, partisipasi dan kemandirian melalui produksi secara kolektif, koperasi atau kelompok ekonomi, sosial atau swadaya lainnya.
Memperkuat keadilan gender dalam bidang kehidupan ekonomi, sosial, politik dan budaya di masyarakat maupun pemerintahan dengan cara memberikan perlindungan hak-hak kaum perempuan dan insentif untuk pengembangan mereka. Untuk mendukung hal tersebut, akan disediakan fasilitas bagi kaum perempuan agar mereka dapat berpartisipasi penuh dalam kegiatan sosial, ekonomi, politik dan budaya, seperti mendirikan tempat-tempat penitipan anak di pabrik-pabrik, tempat-tempat kerja, komunitas-komunitas miskin kota, maupun tempat-tempat umum lainnya.
Mengembangkan dan memperkuat lembaga-lembaga demokrasi dan memberi ruang kebebasan bagi masyarakat sipil dalam menyampaikan pendapat maupun berorganisasi/berserikat.
Memprioritaskan pengembangan sektor industri dan perdagangan rakyat dengan cara memberi dukungan teknologi, pasar, sarana-prasarana, permodalan dan pengembangan sumberdaya manusia melalui pengorganisasian di bawah koperasi-koperasi atau asosiasi-asosiasi usaha rakyat.
Menciptakan sistem dan kebijakan yang dapat memberikan peluang dan akses yang mudah guna meningkatkan produktifitas usaha-usaha rakyat dan memastikan adanya pengalokasian dana APBD maupun perbankan dalam bentuk pinjaman lunak untuk membantu pengembangan usaha-usaha kecil-menengah produktif.
Menyediakan kesempatan kerja seluas-luasnya bagi pada pemuda-pemudi dengan membangun sektor-sektor usaha yang padat karya, tak terkecuali penghapusan terhadap segala bentuk praktek KKN di perusahaan-perusahaan negara maupun swasta dalam perekrutan tenaga kerja.
Tidak akan melakukan privatisasi industri dan jasa pelayanan publik yang berkait langsung dengan kepentingan masyarakat umum seperti pelayanan pendidikan dan kesehatan, listrik, air, transportasi umum, dan lain-lain agar tetap dikelola Pemerintahan dengan prinsip-prinsip efisiensi dan bersih dari praktek-praktek KKN yang dikontrol langsung oleh masyarakat.
Menstimulasi dan memfasilitasi berbagai inisiatif independen dan ekspresi kelompok-kelompok warga dengan menyediakan dan memfungsikan sarana olah raga dan kesenian, perpustakaan, dan ruang-ruang publik seperti taman-taman, ruang terbuka, dan fasilitas kebudayaan.
Memberikan perlindungan dan kepastian tempat tinggal bagi rakyat serta mengembangkan pola pemukiman pendudukan yang murah dan layak bagi kaum miskin kota, buruh, pegawai kecil, dan pekerja sektor informal lainnya berbasis partisipasi rakyat.
Menyediakan pelayanan air bersih, listrik, MCK, transportasi dan sarana prasarana lainnya secara murah kepada masyarakat dengan cara memberikan subsidi yang diambil dari pajak progresif, hasil keuntungan perusahaan-perusahaan daerah, dan dana-dana bantuan pemerintah lainnya.
Mengembangkan pola pendidikan rakyat yang murah dan berkualitas dari TK sampai perguruan tinggi, menghidupkan kembali sekolah-sekolah yang berbasis pada pengetahuan dan praktek pengalaman lapangan untuk mendukung pengembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Menyediakan pelayanan kesehatan gratis bagi seluruh rakyat dengan cara menerapkan sistem asuransi, meningkatkan kualitas layanan klinik kesehatan, rumah sakit, suplai obat-obatan, alat-alat kesehatan, tenaga dokter, voluntir kesehatan dan tenaga medis lainnya.
Mempermudah, mempermurah, dan mempersingkat pengurusan surat-surat kependudukan, perijinan usaha dan perijinan lainnya, dengan sistem One Stop Service.
Meningkatkan Ruang Terbuka Hijau menjadi seluas 20% pada akhir tahun kelima (2013).
Pengendalian perijinan dan pembangunan Bandung Utara.
Pengelolaan PKL dan sektor usaha informal lainnya secara bermartabat. Artinya, akan dilakukan penataan secara lebih manusiawi dan pembinaan untuk kemajuan usaha mereka.
Membatasi pembangunan mall-mall dan lebih memprioritaskan revitalisasi pasar-pasar tradisional.
Pengelolaan sampah yang lebih mengedepankan perspektif ramah lingkungan dan sosial.
Menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya jika anda berkenan berbagi gagasan dan masukan untuk kota kita tercinta; Bandung the creative city ever..
Filed under: Aspirasi
Sebagai orang yang dilahirkan dan menghabiskan sebagian besar hidup di Bandung, saya merasa prihatin melihat adanya penurunan kualitas lingkungan maupun kualitas kehidupan warga Bandung dan tergerak untuk ikut berkontribusi mencari pemecahannya secara cerdas,kreatif dan partisipatif. •Masalah-masalah perkotaan di Bandung tidak bisa dipecahkan hanya dari aspek teknis, tapi juga menuntut adanya kepemimpinan yang kompeten, tanggap, dan peduli. •Tantangan ke depan adalah bagaimana agar berbagai inisiatif dan energi kreatif dan inovatif bisa berkembang di Bandung.•Kualitas kepemimpinan yang dituntut kota Bandung saat ini adalah adanya keseimbangan antara kepedulian, keberanian, dan keahlian sekaligus. Yaitu kepemimpinan yang mau mendengar apa yang diinginkan warganya dan memahami apa yang dibutuhkan kota ini, bisa tegas mengambil keputusan, dan bisa mengajak berbagai pihak untuk bersama menjalankannya. Apa yang seharusnya dilakukan?
•Mencari terobosan dan keluar dari cara berpikir tradisional
•Pemanfaatan best practices dan bad practices dalam proses perencanaan
•Komitmen bersama dan meminimalkan ego- sektoral
•Stakeholder democracy – pengambilan keputusan secara inklusif
•Membawa pelayanan kepada warga bukan sebaliknya
•Melihat pedagang kaki lima dan sektor informal sebagai aset, bukan masalah
•Memfokuskan pada hasil bukan input dalam penggunaan anggaran daerah Bagaimana caranya?
•Membuka akses terhadap pelayanan dasar dan pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan, perumahan yang layak, kesempatan berusaha, informasi dan akses internet bagi warga.
•Memecahkan masalah-masalah kemacetan, persampahan, perparkiran, banjir, dan kerusakan lingkungan secara serius dan inovatif
•Mengembangkan kualitas angkutan umum dan penyediaan fasilitas pedestrian yang nyaman •Menjadikan Bandung kota yang nyaman dan ramah terhadap perempuan, generasi muda, anak-anak, orang tua (manula), dan penyandang cacat antara lain dengan menyediakan berbagai fasilitas umum yang khas sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
•Mengembangkan iklim berusaha yang sehat, memfasilitasi muncul dan berkembangnya usaha-usaha kreatif, dan meningkatkan daya saing pasar tradisional, pengusaha kecil dan sektor informal melalui penyediaan layanan perizinan yang mudah, modal dan ruang usaha.
•Mengubah mindset birokrasi untuk menjadi aparat yang tanggap, profesional, dan bisa dipercaya.
•Menstimulasi dan memfasilitasi berbagai inisiatif independen dan ekspresi kelompok-kelompok warga dengan menyediakan dan memfungsikan sarana olah raga dan kesenian, perpustakaan, dan ruang-ruang publik seperti taman-taman, ruang terbuka, dan fasilitas kebudayaan.
•Mendayagunakan aset-aset kota termasuk potensi kewirausahaan dan bakat kreativitas warga untuk kepentingan masyaraka
Filed under: Aspirasi
Warga kota yang cerdas, memiliki motivasi, imajinasi dan kreativitas adalah sumber daya utama dari kota seperti Bandung. Merekalah yang akan menentukan masa depan kota dan kemampuan kota untuk beradaptasi dan bertahan dari berbagai transisi dan krisis. Dalam situasi krisis seperti saat ini, banyak solusi lama tidak dapat bekerja lagi.Namun mampu atau tidaknya suatu kota mencari solusi dan melampaui krisis tersebut, selain tergantung warganya, juga sangat tergantung pada orang-orang yang diberi amanat untuk merencanakan dan mengelolanya. Apakah pimpinan dan birokrasi kota bisa berpikir, merencana, dan bertindak secara kreatif dan menjadikan hal-hal inovatif menjadi realitas atau tidak, adalah satu tantangan kota-kota masa kini.
Perlu kepercayaan diri
Hal pertama yang perlu ada adalah adanya rasa percaya diri dari pemimpin bahwa persoalan-persoalan perkotaan yang nampak rumit sesungguhnya masih bisa dicari jalan keluarnya melalui cara-cara yang tidak konvensional. Kepemimpinan yang visioner dan sekaligus mampu memberikan dorongan bagi publik, sektor swasta maupun kelompok swadaya untuk terlibat sangat dibutuhkan. Jika pemimpin tetap mencoba memecahkan segala masalah perkotaan dengan cara-cara lama, masalah-masalah yang sama juga akan terus dihadapi. Karena dinamika yang sangat tinggi dan perubahan yang pesat di kota-kota seperti Bandung, kita tidak akan mungkin memecahkan persoalan hari ini dengan cara berpikir seperti sepuluh tahun lalu. Sayangnya pemimpin bisa terjebak dalam sistem administrasi pengelolaan kota yang sangat rigid, yang sangat tidak sesuai dengan masalah perkotaan yang menuntut adanya respons yang unik dan cepat untuk masing-masing persoalan.
Sebagai agen-agen pelaksana tugas sehari-hari dari keputusan-keputusan penting yang telah dibuat para pengambil keputusan tentang apa potensi kota dan bagaimana kota dikembangkan, biasanya birokrasi tidak memperoleh cukup kesempatan untuk memperdebatkan berbagai alternatif strategi dan langkah aksi yang bisa diambil. Adalah juga hal yang biasa ketika birokrasi lambat atau lalai menanggapi suatu masalah sederhana namun penting seperti menambal jalan berlubang atau mencegah tanaman di taman kota agar tidak mati karena kekeringan. Kota yang kreatif menuntut adanya perubahan paradigma, cara berpikir dan cara bekerja yang baru dari para aparat birokrasi di kota. Mereka perlu lebih tanggap dan mau membuka diri terhadap berbagai ide dan gagasan-gagasan baru dan kemudian menerjemahkannya ke dalam langkah-langkah praktis. Metode kerja, penyusunan rencana program maupun anggaran tentunya tidak mengarah pada satu jawaban pasti, tetapi akan membuka diri pada berbagai kemungkinan dari mana inovasi dan ide-ide baru biasanya muncul. Institusi birokrasi yang inovatif menuntut adanya prosedur baru dalam perencanaan dan pemecahan masalah yang bersifat lebih fleksibel, partisipatif dan reflektif. Ide kreatif akan lebih sukses ketika dilaksanakan oleh aparat pelaksana yang juga berpikir dan bekerja kreatif.
Beberapa contoh solusi kreatif
Ketika kita dihadapkan pada masalah transportasi di perkotaan, polusi, serta adanya lonjakan harga BBM, misalnya, maka berbagai moda transportasi alternatif yang hemat enerji dan sekaligus bisa dinikmati seperti berjalan kaki, bersepeda, dan berbecak, bisa didorong dan diberi tempat yang lebih layak dengan menyediakan ruang yang aman dan nyaman maupun fasilitas lain yang memadai. Saat ini kota Bandung menakutkan bagi pejalan kaki dan pemakai sepeda karena berbagai resiko yang harus dihadapi seperti terserempet atau menjadi korban tabrak lari. Tidak ada tempat-tempat istirahat dan tempat parkir yang aman bagi mereka di jalan-jalan utama seperti jalan Dago, Merdeka, dan RE Martadinata (Riau). Secara paralel, pemikiran-pemikiran imajinatif dalam penggunaan enerji alternatif untuk transportasi juga bisa dikembangkan oleh perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung. Berbagai kemungkinan pengembangan dan penyesuaian transportasi publik tentu bisa didiskusikan dengan melibatkan sektor bisnis transportasi maupun perwakilan dari pemakai jasa. Pendekatan yang lebih holistik untuk mengembangkan mass-rapid transport seperti monorail juga dapat terus dijajaki kemungkinannya.
Partisipasi akan menghasilkan solusi yang kaya
Kreativitas dalam memecahkan masalah perkotaan yang kompleks lebih mungkin untuk dikembangkan di kota-kota yang merupakan amalgama dari berbagai jenis orang dengan berbagai keahlian, budaya, usia, jenis kelamin, dan kepedulian sosialnya. Pendekatan-pendekatan yang partisipatif dan inklusif akan menghasilkan solusi yang kaya, variatif dan tepat guna. Solusi kreatif menuntut adanya kapasitas untuk mengkombinasikan pemikiran konseptual dengan kemampuan praktikal. Jarang sekali kombinasi berbagai kemampuan ini ada dalam satu orang, tapi sangat mungkin ada dalam tim. Itu sebabnya pemecahan setiap masalah perkotaan sebaiknya dilakukan tim yang mengkombinasikan berbagai orang yang memiliki kepentingan, kepedulian dan sekaligus kompetensi dalam bidang tersebut.
Pemecahan masalah perkotaan yang kreatif dan bertanggung jawab merupakan satu perjalanan bukan tujuan. Proses menjadi penting, karena setiap upaya perlu dicek, diadaptasi dan diperbaiki terus menerus. Proses ini membutuhkan keterlibatan aktif dari mereka yang akan mengalami masalah maupun yang akan terkena dampak dari suatu kegiatan.
Perencanaan adalah proses kreatif
Ke depan, jika Bandung akan dikembangkan menjadi “Kota Kreatif” sangat diperlukan adanya upaya yang masif untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan dan cara kerja birokrasi, temasuk dalam cara bagaimana rencana dibuat dan siapa yang membuat. Dalam pandangan saya, seorang perencana adalah mereka yang memfasilitasi proses urban strategy making yang bersifat konsultatif dan partisipatif, bukan mereka yang menyusun rencana dengan cara teknokratis semata. Pembuatan strategi kota memiliki lingkup yang lebih luas dari sekedar perencanaan kota yang klasik. Ketika membuat strategi kota, para perencana tidak boleh meremehkan dinamika sosial dan ekonomi yang sedang berlangsung di kota, namun sebaliknya, memanfaatkannya untuk memperbaiki atau memecahkan masalah secara kreatif. Para perencana jangan terjebak dalam proses birokrasi yang inkreatif dan perencanaan hendaknya dibuat menjadi proses yang bersifat deliberatif bukan proses teknis yang sempit.