Program 100 Hetifah For Bandung


Membangun 100 Studio Musik & Karaoke Keluarga yang Terjangkau
June 17, 2008, 10:08 am
Filed under: Program 100 | Tags: ,

Dalam babad mitologi Sunda, dikisahkan leluhur masyarakat pulau Jawa yaitu Hariang Banga dan Ciung Wanara setelah pertempuran di antara keduanya memilih untuk berdamai dan kemudian masing-masing berpisah. Ranghiang Banga memilih jalan ke arah timur sambil ber-syair dan ia merupakan leluhur suku Jawa, sementara Ciung Wanara yang merupakan leluhur orang Sunda, memilih ke arah barat sambil bernyanyi. Mitologi ini menunjukkan adanya afinitas orang Bandung, sebagai ibu kotanya orang Sunda, untuk bernyanyi.

Berbagai kontes musik seperti Indonesian Idol, Akademi Fantasi, Mamamia dan sebagainya telah menghiasi layar kaca nasional, namun dimanakah prestasi warga Bandung? Studio Musik tempat generasi muda dapat mengasah kreatifitasnya dalam akuisisi seni musik masih terasa langka dan jarang. Tempat karaoke keluarga yang murah masih sangat kurang. Sebagai sebuah bentuk rekreasi di tengah hiruk pikuk dan kepenatan kota besar dan padat seperti Bandung, karaoke keluarga dapat menjadi sebuah media ekspresi yang positif. Justru sangat disayangkan, malah karaoke sering ter-asosiasi-kan dengan hal-hal yang negative dalam aspek masyarakat Timur. Melalui pembangunan 100 studio musi baru dan fasilitas karaoke keluarga baru dengan harga terjangkau, hal ini dapat diubah. Sebagai sebuah percontohan kota kreatif, Bandung dapat menjadi kota musik, ketika lagu dan keakraban keluarga dapat mencairkan suasana dan secara produktif mendorong kreasi di bidang seni musik.



MENYEDIAKAN 100 HOT SPOT INTERNET
June 17, 2008, 9:50 am
Filed under: Program 100 | Tags: , , ,

Bandung dikenal sebagai kota lembah silikon (silicon valey) di Indonesia. Kota Bandung juga terkenal dengan salah satu kota perintis dalam zona internet hot spot melalui berbagai provider internet lokal kota Bandung ternama yang menyertai tongkrongan café, bandar udara, restoran dan hotel, hingga kampus. Gambar di bawah menunjukkan tingginya kebutuhan akan jumlah hotspot internet di kota Bandung, meskipun dalam fraksinya relatif terhadap luas wilayahnya masih lebih tinggi daripada Jakarta dan Bogor.

Bandung Kota Hotspot:
Gambaran perbandingan jumlah hotspot internet di Jakarta, Bandung, dan Bogor
(dari berbagai sumber)

Dorongan pembangun 100 tempat hotspot internet baru di Bandung akan mendorong banyak hal:
Pemasyarakatan penggunaan internet di kota Bandung yang semakin menunjukkan karakternya sebagai pionir lembah silikon di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2006) partisipasi penggunaan internet di Indonesia masih sangat rendah (<7%).
Karakter Bandung sebagai kota tempat belajar dan kota kreatif akan sangat terdorong dengan image akan Bandung sebagai kota hotspot internet, mengingat internet merupakan salah satu sumber kreativitas yang paling tinggi di tengah masyarakat modern.
Pembangunan Hotspot mendorong terbangunnnya sentra ekonomi lainnya di Bandung, misalnya bisnis café, restoran dan hotel yang dapat menjadi salah satu sumber dana bagi pusat likuiditas ekonomi Kota Bandung secara umum.



MEMBANGUN 100 KURSUS BAHASA MURAH
June 17, 2008, 9:47 am
Filed under: Program 100 | Tags: , , ,

Sebagai sebuah kota pendidikan, Bandung mestinya dapat menjadi tempat mempelajari bahasa asing yang kondusif. Lingkungan pendidikan bahasa di Bandung cukup dikenal dengan berbagai pusat budaya asing yang ada di kotamadya Bandung (CCF, Goethe Institute, dan sebagainya). Namun seringkali akses untuk pelajaran bahasa asing relatif rendah karena dibutuhkan biaya yang tinggi sementara kelembagaan pendidikan tinggi di bidang bahasa cukup besar di wilayah kota Bandung. Program 100 Kursus Bahasa Murah mestinya dapat menjadi tempat pertemuan keadaan supply dan demand ini. Kursus Bahasa Murah akan menghasilkan angkatan kerja yang memiliki kecakapan bahasa asing yang baik dan secara umum meningkatkan profil kota Bandung yang dapat menyuarakan berbagai zona dan industri kreativitas yang terdapat di dalamnya.



MENYEDIAKAN 100 KAMAR MANDI UMUM BERSIH DAN SEHAT
June 17, 2008, 9:39 am
Filed under: Program 100 | Tags: , ,

Lebih dari 40% kegiatan ekonomi di Bandung adalah di sektor jasa dan perdagangan terkait fasilitas publik seperti hotel, restoran, café, dan sebagainya (BPS, 2001). Namun hal ini kontras dengan data lain yang menunjukkan bahwa lebih dari 40% luas kota Bandung digolongkan sebagai daerah kumuh (Bandung City Report, 2002). Sanitasi dan tempat buang hajat publik yang sehat dan higienik merupakan sebuah parameter yang penting untuk diperhatikan untuk menjadi kota yang lebih asri dan baik. Semua fasilitas publik seperti taman kota, sentra pedestrian, dan sebagainya mesti disokong oleh kamar mandi umum yang bersih dan sehat termasuk toilet umum di berbagai fasilitas publik seperti sekolah dan pusat-pusat perbelanjaan (khususnya pasar tradisional). Program 100 Kamar Mandi Umum Bersih dan Sehat merupakan sebuah langkah progresif untuk mencapai hal ini.



MENYELENGGARAKAN 100 FESTIVAL KOTA
June 17, 2008, 9:27 am
Filed under: Program 100 | Tags: , ,

Setiap kali weekend maka Bandung dikenal terkena kemacetan dengan banyaknya pengunjung dari Jakarta dan kota-kota di sekitar Bandung. Kedatangan mereka ini terkait dengan terkenalnya Bandung sebagai tempat berbagai produk budaya digelar, mulai dari aneka ragam makanan dan minuman, pakaian dan berbagai pernak-pernik sandang, buku, alat elektronik dan komputer, musik dan seni pertunjukan, dan sebagainya. Bandung dapat menjadi sebuah buffer tempat berkumpulnya produsen di sentra-sentra kebudayaan dan industri di sekitar kota Bandung ataupun di dalam kota Bandung dengan konsumen yang datang ke Bandung. Treatment yang baik akan mendorong kreativitas di kalangan produsen kerja-kerja seni dan budaya tersebut. Penyelenggaraan 100 festival kota terkait hal-hal spesifik tersebut diperlukan untuk diadakan dengan peningkatan apa yang telah terjadi secara organis selama ini di kota Bandung. Festival yang diadakan dapat secara spesifik untuk melengkapi berbagai festival yang telah ada selama ini, misalnya festival jeans bandung, festival batik gaul Bandung, festival kujang Bandung, dan sebagainya dengan pelibatan berbagai organisasi pekerja seni dan budaya yang saat ini memang marak di Bandung.



MEMBANGUN 100 PERPUSTAKAAN DESAIN
June 17, 2008, 8:54 am
Filed under: Program 100 | Tags: , , , ,

Di Institut Teknologi Bandung saja, terdapat lebih dari 100 orang sarjana di bidang desain dan seni (sumber: ITB, 2007). Untuk wilayah Bandung, intelektual di bidang desain dan kretativitas ini ditambah lagi dengan berbagai sentra pendidikan desain dan seni di lingkungan swasta seperti Sekolah Tinggi Seni Indonesia yang bertempat di Bandung. Sebagai sebuah kota kreatif, maka berbagai pengembangan inovatif dan kreatif terkait desain perlu disokong oleh perpustakaan desain. Perpustakaan desain ini merupakan tempat berbagai hasil inovasi seni dan budaya terdata dengan baik ditambah dengan berbagai sumber referensi terkait pengembangan desain di kota Bandung. Perpustakaan desain merupakan hal yang sangat penting yang dapat dimotori oleh berbagai kelembagaan seni dan pusat-pusat studi seni yang memang marak di wilayah kota Bandung. Program 100 Perpustakaan Desain ini pada gilirannya akan menjadi sumber basis data referensi bahkan inspirasi bagi berbagai inovasi desain berbagai produk yang dikembangkan tak hanya di Bandung, tapi juga Indonesia dan dunia secara umum.



MEMBANGUN 100 PUSAT KETRAMPILAN
June 17, 2008, 8:50 am
Filed under: Program 100 | Tags: , ,

Angka pengangguran relatif masih tinggi di Kota Bandung. Pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas manusia juga jauh dari harapan terutama karena pendidikan umum yang tersedia tidak menjadikan seseorang siap kerja. Di sisi lain, terdapat perkembangan kegiatan wirausaha yang berhasil yang dapat menyerap tenaga kerja, namun masih mengalami kendala untuk mendapatkan tenaga kerja yang terlatih.

Pembangunan pusat ketrampilan dapat menjadi sarana untuk mempertemukan kebutuhan antara kegiatan ekonomi yang berkembang di Bandung dengan para pencari kerja. Hal yang perlu dilakukan adalah mengenali kebutuhan industri/kegiatan ekonomi yang dominan di Kota Bandung akan tenaga kerja, karakteristik atau ketrampilan yang dibutuhkan, dan lain-lain. Identifikasi ini yang kemudian menjadi dasar untuk menentukan jenis ketrampilan apa yang akan disediakan oleh kota Bandung.

Belajar dari Kabupaten Sragen, Kota Bandung juga dapat mendorong munculnya wirausaha baru dengan mendorong penduduk kota Bandung mempelajari suatu ketrampilan yang kemudian dapat dikerjakan di Kota Bandung.



MEMFASILITASI 100 KLINIK UKM /BDS

Pada tahun 2006, dari sekitar 88.9 juta orang bekerja, sekitar 80.9 juta orang bekerja di sektor usaha kecil, sementara 4.4 juta orang bekerja di sektor usaha menengah. Hampir 90% unit usaha adalah termasuk usaha kecil dan menengah (Kantor Menteri Negara Koperasi dan UKM, 2006). Di samping modal, UKM juga membutuhkan bantuan-bantuan lain seperti pemasaran atau pengembangan desain. Terutama dalam hal pengembangan desain ini banyak UKM yang menghadapi tantangan karena desain mereka sering mengambil dari desain yang sudah ada (misalnya industri boneka mengambil desain tokoh-tokoh kartun dari televisi), yang kemudian menimbulkan persoalan pada hak cipta.

Sebenarnya telah ada upaya bantuan yang dilakukan pemerintah untuk membantu UKM dari sisi pemasaran ataupun pengembangan produk. Akan tetapi ada beberapa kelemahan dari bantuan tersebut. Pertama, sering bantuan tersebut tidak cocok dengan kebutuan usaha kecil. Misalkan industri kecil logam mendapatkan bantuan mesin yang ternyata tidak dapat dimanfaatkan karena mesin tersebut membutuhkan energi yang lebih besar, sementara kapasitas produksinya masih terbatas. Kedua, bantuan bersifat proyek sehingga tidak jelas pertanggunjawaban maupun keberlanjutannya. Hal ini sering disebabkan karena pegawai instansi yang bersangkutan tidak mengenali karakter usaha kecil yang dibantu atau memang tidak mempunyai kapasitas untuk bertindak sebagai konsultan atau pendamping pengembangan UKM.

DI sisi lain banyak pihak yang dengan kapasitas masing-masing terlibat dalam upaya pengembangan UKM. Sama halnya dengan pengembangan lembaga keuangan mikro pemerintah dapat bertindak sebagai fasiltiator, dalam artian mendorong BDS-BDS yang inovatif dengan memberiakn semacam penghargaan/insentif bagi BDS tersebut.



MENYEDIAKAN 100 AREA PKL
June 17, 2008, 6:44 am
Filed under: Program 100 | Tags: ,

PKL bagi pemerintah kota sering dianggap sebagai perusak keindahan kota dan penyebab kesemrawutan dan kemacetan. Padahal di sisi lain, PKL mempunyai peranan penting di dalam perekonomian perkotaan. Pada sebuah seminar yang disponsorip LGSP USAID, GKG Laksaketi menyebutkan bahwa nilai transaksi perdagangan sektor informal/PKL mencapai 2.68 Triliun, walaupun hal ini dibantah oleh perwakilan Pemkot Bandung di seminar yang sama karena PDRB Kota Bandung tidak memperhitungkan kontribusi sektor informal/PKL. Selain itu, klaim bahwa PKL penyebab kemacetan dan ketidakteraturan juga cenderung menyamaratakan PKL sebagai satu-satunya biang kerok. Padahal secara kasat mata kita melihat bahwa pertumbuhan factory outlets dan mal seperti PvJ juga menyebabkan kemacetan yang luar biasa di kota Bandung.

Penanganan PKL cenderung bersifat represif melalui penggusuran, sementara penataan atau pengaturan cenderung mengabaikan karakter PKL sendiri. Pemindahan PKL di daerah Alun-alun ke dalam arena Dezone misalnya, atau PKL di Karapitan ke lantai paling bawah dari mal, menempatkan PKL pada posisi yang tidak strategis sehingga ketika dagangan mereka tidak laku, akhirnya mereka kembali ke jalan.

Alasan ketiadaaan lahan untuk arena PKL sebenarnya kurang tepat jika kita bandingkan berapa lahan yang bisa disediakan pemerintah Kota Bandung untuk pembangunan pusat perbelanjaan modern dan mal-mal mewah, yang sebenarnya sudah terlalu banyak untuk Koat Bandung. Pemda Kota Bandung dapat belajar dari Kota Solo dalam penangaan PKL yang lebih persuasif. Kami berhipotesis bahwa PKL pada dasarnya bersedia bekerjasama untuk menciptkaan keindahan dan ketertiban kota Bandung, sepanjang bahwa ajakan ini disampaikan dengan persuasif. Oleh karena itu langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah 1) melakukan pemetaan terhadap lokasi PKL serta karakteritstiknya 2) memetakan lokasi2 strategis milik Pemda (Pemda bisa menjadi investornya) untuk dibangun pasar-pasar tradisional) 3) Melakukan dialog dengan PKL termasuk menerima masukan PKL agar desain pasar maupun lokasi baru tetap bersahabat dengan PKL dan kelompok konsumennya



MEMFASILITASI 100 LEMBAGA KEUANGAN MIKRO
June 17, 2008, 6:40 am
Filed under: Program 100 | Tags: ,

Jasa keuangan seperti tabungan dan kredit seharusnya dapat dinikmati oleh banyak pihak, tidak hanya oleh masyarakat menengah ke atas saja. Pada kenyataannya, saat ini jasa keuangan yang disajikan oleh lembaga keuangan konvensional (bank) hanya dapat diakses oleh masyarakat kelas menengah ke atas. Khusus untuk kredit usaha, mayoritas usaha kecil di Indonesia (sekitar 90% dari total unit usaha di Indonesia menurut data dari Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2006) belum dapat mengakses kredit usaha ke bank, padahal kelompok ini merupakan kelompok penting karena penyerapan tenaga kerja yang tinggi. Pentingnya LKM bagi masyarakat miskin telah terbukti terutama dari adanya penghargaan Nobel kepada salah satu pendiri LKM terbesar di dunia yaitu Prof. Yunus di Bangladesh.

Alternatif bagi kelompok usaha kecil dan menengah pada khususnya atau kelompok miskin pada umumnya adalah jasa lembaga keuangan mikro. Di Indonesia, termasuk di Bandung, lembaga keuangan ini sudah banyak tersebar, antara lain dalam bentuk koperasi simpan pinjam, baitul maal wat tamwil (BMT), kegiatan simpan pinjam yang didorong oleh LSM, bahkan termasuk program-program kredit bagi UKM yang diluncurkan oleh pemerintah sendiri. Kesemuanya merupakan upaya alternatif penyediaan jasa keuangan mikro bagi kelompok miskin dan kecil. Hanya umumnya LKM ini masih bergerak di bidang simpan pinjam saja.

Dalam rangka meningkatkan peranan LKM di Kota Bandung, pemerintah Kota Bandung dapat berperan sebagai fasilitator bagi LKM-LKM tersebut. Peran ini antara lain diwujudkan dengan ;

1) Pemberian insentif/reward bagi LKM yang dinilai mempunyai inovasi dalam mengembangkan jasa layanan bagi kelompok miskin (misalnya di luar kredit, mengembangkan skema asuransi usaha bagi kelompok miskin);
2) Mendorong pelatihan atau training bagi inovasi baru di bidang keuangan mikro seperti penyediaan sistem jaminan kredit macet.